Pengertian
Tanggung jawab adalah kesadaran manusia
akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan
kewajibannya
Masalah
tanggung jawab dalam konteks individual berkaitan dengan konteks teologis.
Manusia sebagai makhluk individual berarti manusia harus bertanggung jawab
terhadab dirinya (keseimbangan jasmani dan ciptanya). Tanggung jawab manusia
terhadap dirinya akan lebih kuat intensitasnya apabila tidak memiliki kesadaran
yang mendalam.
Tanggung jawab dalam konteks pergaulan
manusia adalah keberanian orang yang bertanggung jawab, orang yang berani
menanggung resiko, atau segala yang terjadi tanggung jawabnya. Ia jujur
terhadap dirinya dan jujur terhadap orang lain tidak pengecut dan mandiri.
Orang yang bertanggung jawab adalah orang yang mau berkorban demi kepentingan
orang lain.
Demikian juga tanggung jawab manusia terhadap
Tuhannya, timbul karena manusia sadar akan keyakinan nilai-nilainya. Dalam hal
ini terutama keyakinan terhadap nilai yang bersumber dari jalan agama manusia
bertanggung jawab terhadap kewajiban menurut keyakinan agamannya.
Tanggung jawab erat kaitannya dengan
kewajiban. Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan terhadap seseorang.
Kewajiban merupakan bandingan terhadap hak dan dapat juga tidak mengacu kepada
hak, maka dengan tanggung jawab dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap
kewajibannya.
Kewajiban dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1) Kewajiban
terbatas
Kewajiban ini berlaku kepada setiap orang,
sama, tidak dibeda-bedakan.
Contohnya: undang-undang larangan membunuh,
mencuri yang disampingnya dapat diadakan hukuman-hukuman.
2) Kewajiban
tidak terbatas
Kewajiban ini berlaku kepada semua orang. Tanggung
jawab kepada kewajiban ini, nilainya lebih tinggi, sebab dijalankan oleh suara
hati, seperti keadilan dan kebijakan.
Orang yang bertanggung jawab dapat memperoleh
kebahagiaan, sebab dapat menunaikan kewajibannya. Kebahagiaan tersebut dapat
dirasakan oleh dirinya atau orang lain. Sebaliknya orang yang tidak bertanggung
jawab akan menghadapi kesulitan, sebab ia tidak mengikuti aturan, norma, atau
nilai yang berlaku.
Problem pertama yang dirasakan pada zaman
sekarang, sehubungan dengan masalah tanggung jawab, adalah rusaknya peranan
moral dan rasa hormat diri terhadap pertanggungjawaban.
Orang yang bertanggung jawab itu adil, atau
mencoba berbuat adil. Tetapi adakala orang bertanggung jawab tidak dianggab
adil, karena runtuhnya nilai-nilai yang dipegangnya. Orang yang demikian tentu
akan mempertanggungjawabkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Dia tidak tampak
tetapi memggerakkan dunia dan mengaturnya. Jadi, orang semacam ini akan
bertanggung jawab kepada Tuhannya.
MACAM-MACAM TANGGUNG JAWAB
Menurut sifat dasarnya manusia adalah makhluk
bermoral, juga seorang pribadi. Karena seorang pribadi, maka manusia mempunyai
pendapat sendiri, perasaan sendiri berbuat dan bertindak sendiri. Dalam hal ini
manusia tidak luput dari kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Oleh
karena itu manusia harus bertanggung jawab atas diri pribadi.
Contoh:
Rudi membaca sambil berjalan. Meskipun
sebentar-bentar ia melihat jalan, tetapi ia lengah, terperosok kakinya kesebuah
lubang. Kakinya terkilir. Ia menyesali dirinya sendiri akan kejadian itu. Ia
harus beristirahat di rumah beberapa hari. Konsekuensi tinggal dirumah beberapa
hari merupakan tanggung jawab sendiri atas kelengahannya.
a. Tanggung
Jawab Terhadap Keluarga
Lembaga sosial yang terkecil adalah keluarga.
Keluarga kecil (keluarga batih=nuclier family) dan keluarga besar.
Keluarga kecil terdiri dari suami, isrti dan anak-anaknya. Keluarga besar (extended
family) suami, isrti, anak-anak, ayah-ibu, adik, kemenakan dan masih ada
hubungan darah dan sebagainya. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab
terhadap keluargannya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi
tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan dan
kehidupan.
Contoh:
Penyelewengan Dr. Tono (sukartono) sebagai Ayah,
berarti tidak bertanggung jawab akan kewajibannyasebagai suami. Sebaliknya
Tini, istri Tono yang kurang menghargai suaminya, juga merupakan contoh tidak
bertanggung jawabnya sebagai seorang istri.
b. Tanggung
Jawab Kepada Masyarakat
Suatu kenyataan pula bahwa manusia adalah makhluk
sosial. Ia merupakan angguta masyarakat. Ia hidup bersama ditengah-tengah
masyarakat. Karena itu dalam berfikir, bertindak, dan sebagainya manusia
terikat oleh masyarakat. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya
harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.
Contoh:
Tuti telah bertekat untuk berjuang meningkatkan
derajat kaumnya dalam “Putri Sedar”. Ia bertekat bahwa apapun yang terjadi atas
dirinya tetap akan dipertanggung jawabkan .
”Tidak, tidak, saya tidak boleh mendurhaka
demikian terhadap asas, tujuan dan pendirian saya sendiri. Malu saya melihat
saya sendiri”. Apa boleh buat jalan yng sulit ini sudah saya pilih dari semula
dan tidak boleh menyimpang lagi, meski kemana sekalipun saya dibawanya.
c. Tanggung
Jawab Kepada Bangsa/ Negara
Suatu kenyataan lagi bahwa setiap manusia, setiap
individu adalah warga Negara suatu Negara. Dalam berfikir dan bertindak,
berbuat, bertingkah laku, manusia terikat oleh norma-norma atau aturan-aturan,
yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat membuat semua sendiri. Bila
perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada Negara.
Contoh:
Dalam novel “Jalan Tak Ada Ujung” karya Mochtar
Lubis. Guru Isa yang terkenal sebagai guru yang baik terpaksa mencuri
barang-barang milik sekolah, demi rumah tangganya. Perbuatan guru Isa ini harus
dipertanggung jawabkan kepada pemerintah. Kalau perbuatan ini diketahui pihak
berwajib, ia harus berurusan dengan pihak kepolisian dan keadilan.
d. Tanggung
Jawab Kepada Tuhan
Tanggung jawab kepada Tuhan menuntuk kesadaran
manusia untuk memenuhi kewajiban dan pengabdiannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia harus bersyukur kepada Tuhan atas
karunia-Nya, menciptakan manusia dan memberi rezeki kepadanya. Karena itu
manusia wajib mengabdi kepada Tuhan.
Firman Allah: “Tidaklah Aku jadikan jin dan
manusia, melainkan supaya mereka itu menyembah kepada Ku”. (QS. Az-Zariyat,
51: 56)
Menyembah itu mengabdi kepada Tuhan, sebagai wujud
tanggung jawab kepada Tuhan. Tanggung jawab erat kaitannya dengan kewajiban.
Kewajiban adalah merupakan sesuatu yang dibebankan terhadap seseorang. Namun
Allah hanya memberikan beban kepada seseorang sesuai dengan kemampuannya.
Kewajiban merupakan bandingan terhadap hak dan
dapat juga tidak mengacu kepada hak. Manusia mempunyai kewajiban terhadap Allah
dengan menyembah-Nya, kewajiban terhadap sesama dengan cara berbuat baik. Orang
yang bertanggung jawab dapat memperoleh haknya berupa kebahagiaan, sebab ia
dapat menunaikan kewajibannya. Kebahagiaan tersebut dapat dirasakan oleh
dirinya atau oleh orang lain.
Manusia ada bukan dengan sendirinya, tetapi
merupakan ciptaan Tuhan. Karena itu manusia berkewajiban terhadap Tuhan.
Kelalaian akan kewajibannya terhadap Tuhan harus dipertanggungjawabkan kepada
Tuhan.
C. PENGABDIAN
Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa
pikiran, dapat atau pun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan antara lain kepada,
raja, cinta, kasih sayang, hormat atau suatu ikatan dan semua dilakukan dengan
ikhlas.
Timbulya pengabdian itu hakikatnya ada rasa tanggung
jawab. Lain halnya jika keluarga kita membantu teman, karena ada kesulitan
mungkin sampai berhari-hari ikut menyelesaikan sampai tuntas. Ibu bukan
pengabdian tetapi hanya bantuan saja.
1. Pengabdian
kepada keluarga
Pada hakikatnya manusia hidup berkeluarga. Hidup
berkeluarga ini didasarkan atas cinta dan kasih sayang, kasih sayang ini
mengandung pengertian pengabdian dan pengorbanan. Tidak ada kasih sayang tanpa
pengabdian. Bila ada kasih sayang tidak disertai pengorbanan, berarti kasih
sayang itu palsu atau semu. Dapat berupa pengabdian kepada istri dan anak-anak,
istri kepada suami dan anak-anaknya atau anak-anak kepada orang tuannya
2. Pengabdian
kepada masyarakat
Manusia adalah anggota masyarakat. Ia tak dapay
hidup tanpa orang lain, karena tiap-tiap orang saling membutuhkan. Bila
seseorang yang hidup dimasyarakat tidak mau memasyarakatkan diri dan selalu
mengasingkan diri. Maka apabila mempunyai kesulitan yang luar biasa, ia akan
ditertawakan oleh masyarakat. Cepat atau lambat ia akan menyadari dan menyerah
kepada masyarakat lingkungannya.
Untuk kebutuhan hidup, manusia tidak bisa
mencukupi kebutuhannya sendiri. Dia memerlukan bantuan, pertolongan, amal dan
jasa orang lain. Al-Quran membari dorongan kepada orang-orang beriman, untuk
mencintai saudara-saudaranya yang seiman, berbuat baik kepada mereka dan
memberi pertolongan serta bantuan kepada mereka.
Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang
mukmin itu bersaudaya, karena itu damaikanlah antara kedua saudara mu dan
bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujarat, 46:
10)
Selain itu Al-quran juga mendorong kaum muslimin
bekerja sama, bantu-membantu, dan membentuk masyarakat yang seikat dan terpadu
dimana setiap mukmin merasa terjalin dalam suatu bangunan yang padu.
Dalam kehidupan perguruan tinngi, pengabdian
kepada masyarakat yang merupakan salah satu tugas pokok perguruan tinggi,
adalah Dharma ketiga dari tri darma perguruan tinggi yaitu:
a. Pendidikan
b. Penelitian
c. Pengabdian
kepada masyarakat
3. Pengabdian
kepada Tuhan
Manusia tidak ada dengan sendirinya,
tetapi merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia wajib
mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada
Tuhan, dan itu merupakan perwujudan tanggung jawabnya kepada Tuhan Ynga Mah
Kuasa. Tujuan Allah menciptakan takan jin dan manusia hanya untuk menyembah
kepada-Nya.
Firman Allah SWT: “dan aku tidak menciptakan
jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada ku”. (QS. Adz.
Dzaariyaat, 51: 56)
Menyembah Allah beratri ingat kepada Allah.
Kebiasaan seorang mukmin dalam mengingat kepada Allah, baik dengan mengucapkan
tasbih, takbir, istigfar, doa maupun dengan membaca Al-Quran, membuat jiwa
bersih dan bening serta perasaanya tenang dan tenteram.
Firman Allah SWT: “(yaitu) orang-orang yang
beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram”. (QS al-Ra’d, 13: 28)
Sabda Rasulullah SAW: “Ingatlah akan Allah
aadalah penawar kalbu. Dan sabdanya pula: “Suatu kaum yang berkumpul dan
mengingati Allah pasti disambut oleh para malaikat dan para malaikat pun
memenuhi mereka dengan rahmat-Nya dan menurunkan ketentraman. Dan Allah pun
ingat akan mereka itu”.”
Apabila seorang muslim membiasakan diri mengingat
Allah maka ia akan merasa bahwa ia dekat dengan Allah dan berada dalam
perlindungandan penjagaan-Nya. Dengan demikian, akan timbul pada dirinya
perasaan percaya pada diri sendiri, teguh, tenang, tentram dan bahadia.
Firman Allah SWT: “karena itu, ingatlah kamu
kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”. (QS. Al-Baqarah, 2: 152)
Ingat kepada Allah SWT, yang menimbulkan
perasaan tenang dan tentram dalam jiwa, tak syak lagi merupakan terapi bagi
kegelisahan, yang merasakan manusia, ketika ia mendapatkan dirinya merasa
lemah, tak mempunyai penyangga dan penolong menghadapi berbagai tekanan dan
bahaya kehidupan.
4. Pengabdian
Kepada Negara
Manusia pada hakikatnya adalah bagian dari
suatu bangsa atau warga negara suatu Negara. Karena itu seseorang wajib
mencintai Bangsa dan Negaranya. Mencintai ini biasanya diwujudkan dalam bentuk mengabdian.
Banyak contoh pengabdian kepada bangsa dan Negara dalam kehidupan.
Daftar Pustaka
Notowowidagdo,
Rahiman. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran dan Hadits.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2002
Soelakman-M.
Munandar. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: Eresco. 1992
Tri Prasetya,
Joko. Ilmu Budaya (Lengkap). Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1998
Wiagdho,
Djoko. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2003